Halo Sobat Cuan-ku! Gimana kabar karier saat ini? Kira-kira masih menganggap perlu atau butuh rumah permanen nggak? Untuk investasi atau tempat tinggal misalnya.
Jaman-jaman masih kecil dulu, kupikir hidup dewasa tuh sederhana banget. Punya penghasilan tetap, kerjaan nyaman di kantor, lalu beli atau bikin rumah saat duitnya sudah terkumpul.
Sejelas itu urutan hidupku. Kayak, aku sekolah. Kerja pas lulus. Menikah. Terus nyicil rumah. Dan menetap selamanya.
Berasa default setting kehidupan orang dewasa ya gitu. Soalnya, kayak tiap orang merasa gitu urutannya.
Kalau sekarang beda cerita. Tiap kali buka laptop di pagi hari, aku merasa dunia sudah melesat jauh banget.
Bayangin deh! Temanku meeting-nya di cafe bukannya di kantor. Ada yang kerjanya dari rumah. Sebagian malah pindah kota cuma gegara bosan sama suasana.
Aku jadi mikir, ini kalau karier saja sudah nggak lagi terikat sama kota, apa iya aku masih perlu rumah permanen?
Dulu, Karier dan Rumah Selalu Datang dalam Satu Paket

Generasinya emak bapakku mah dulu kerja di perusahaan plywood yang ada di Kalimantan Tengah.
Pabriknya ada. Kantornya jelas. Aku merasa masa depan akan terasa stabil. Beli rumah cuma hanya urusan waktu saja. Saat tabungan sudah cukup.
Soalnya, bagi mereka, rumah sudah kayak simbol keberhasilan gitu. Di mana kalau sudah punya rumah sendiri berarti hidupnya sudah aman.
Sampai-sampai, ada nasihat klasik yang kalian juga sering dengar.
Kerja yang rajin, biar nanti bisa kebeli rumah impian.
Nggak heran kalau generasinya emak-bapakku masih merasa kalau rumah bukan cuma sekedar tempat tinggal. Rumah juga berarti tanda bahwa seseorang sudah kelar sama perjuangannya.
Intinya kalau sudah punya rumah mah nggak perlu susah-susah lagi-lah kerjanya. Hidup kita sudah bisa santai. Menikmati pensiun.
Dan, jujurly, aku sempat percaya sama anggapan itu.
Tapi Sekarang, Karier Nggak Lagi Terikat Kota

Seperti yang kubilang tadi di awal. Dunia sudah berubah, melesat jauh sekali tanpa kita sadari.
Internet makin cepat. Sudah gitu, pekerjaan juga makin fleksibel. Sekarang mah sudah banyak sekali orang bekerja tanpa harus keluar rumah.
Malahan nih ya, nggak sedikit yang kelihatan cuma nongkrong di cafe. Tapi, aslinya doi lagi mengerjakan job yang nilainya tak terprediksi.
Jalan-jalan doang juga bisa cuan kalau sekarang tuh. Pokoknya, kalau bisa cari peluang, nggak ribet-lah urusan cari uang, kayak:
- kalian bisa kerja untuk perusahaan yang ada di Jakarta tapi tinggalnya di kota kecil,
- punya klien luar negeri tanpa pernah naik pesawat,
- pindah kota nggak harus resign.
Sobat Cuan-ku pada, mau tahu apa yang paling berubah dari cara kita bekerja sekarang?
Kalau kalian cuma mikir soal teknologinya. Maka, kalian harus berpikir ulang.
Yang lebih tepat adalah kebebasannya. Ya, gimana. Kita nggak lagi harus tinggal di satu tempat hanya demi pekerjaan.
Nah, perubahan kecil begini tuh ternyata menggeser banyak hal, termasuk cara kita memandang rumah. Iya nggak, Sobat Cuan-ku?
Ketika Mobilitas Jadi Gaya Hidup Baru
Lalu, aku mulai melihat pola baru yang ada di sekitar lingkaran pertemananku.
Ada teman yang sengaja nyewa apartemen setahun sekali. Biar apa? Yupz, biar bisa mencoba suasana kota berbeda setiap tahunnya.
Sebagian lagi, ada yang memilih tinggal di lingkungan yang dekat sama alam. Mereka ini bagian dari orang yang pekerjaannya cukup dilakukan dari laptop saja.
Nggak sedikit juga yang pada merasa kalau bosan, tinggal pindah saja. Enteng banget tuh mulutnya ngomong begitu. Kayak, nggak ada beban apapun.
Tapi, ya emang benar sih. Hal-hal kayak begitu sekarang mah terasa normal saja. Nggak aneh sama sekali.
Soalnya, sudah banyak sekali orang yang berpikir kalau menyewa hunian bukan lagi sebagai tanda kita belum mampu membeli rumah.
Kadang, itu hanya tentang pilihan hidup. Yang mana, kita perlu merasa tetap fleksibel. Mau tinggal di mana saja. Bebas.
Apalagi di era sekarang. Peluang kerja bisa datang dari mana saja. Pilihan menetap selamanya di satu titik kok rasanya sedikit gimana gitu.
Kalian juga merasa begitu nggak sih, Sobat Cuan-ku?
Apakah Rumah Permanen Masih Jadi Impian atau Malah Jadi Beban?
Aku tahu, ini adalah dilema besar yang muncul saat ini. Kalau dulu, punya rumah permanen adalah sebuah impian masa depan. Sekarang, nggak lagi.
Sebagian orang malah berpikir rumah jadi kayak komitmen besar yang berat. Bayangan cicilan rumah selama 20-30 tahun. Sementara dunia kerja bisa berubah setiap beberapa tahun.
Belum lagi, gimana kalau harus mutasi atau pindah kota? Atau pingin mencoba peluang baru? Atau tiba-tiba ingin hidup nomad, bukannya menetap?
Puyeng puyeng dah tuh. Kagak bisa kejawab ‘kan pertanyaannya. Ya, karena emang nggak semua orang punya pemikiran yang sama.
Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan! Mau punya rumah permanen atau nyaman sewa hunian saja.
Mungkin yang Berubah Bukan Impian Kita, Tapi Definisi Rumah
Semakin ke sini, aku kok jadi menyadari satu hal. Aku bukannya berhenti menginginkan rumah. Aku hanya berusaha mendefinisikan kata rumah secara berbeda.
Gimana maksudnya?
Bagiku, rumah nggak lagi selalu berarti harus punya sertifikat tanah. Nggak harus selalu berisi alamat permanen.
Aku hanya merasa kalau rumah bisa sebagai tempat-ku merasa tenang saat buka laptop di pagi hari.
Kalau menyangkut lokasi ya berarti kota yang bikin aku ingin berjalan kaki tanpa perlu merasa buru-buru.
Intinya, bagiku rumah hanyalah ruang kecil yang bisa kutinggalkan tanpa ada rasa takut kehilangan hidup gitu deh.
Bukankah definisi itu nggak salah ya?
Jadi, Apakah Rumah Permanen Masih Perlu?
Aku nggak punya jawaban pastinya. Mungkin saja, ada yang memang membutuhkan rumah permanen untuk keluarga, stabilitas hidup, atau sekedar rasa kepemilikan.
Tapi, kurang elok juga kalau kemudian nge-judge orang yang memilih fleksibilitas.
Siapa tahu, mereka punya karier yang dimanis, pinginnya bebas bergerak, atau merasa hidup bisa lebih ringan tanpa ikatan panjangnya dengan rumah permanen.
Tenang! Apapun pilihan kalian, nggak ada pilihan mana yang lebih benar. Semuanya, hanya soal pilihan hidup yang berbeda.
Kita Bukan Menolak Rumah Permanen
Generasi sekarang emang sering disalah-pahami. Seolah-olah, kita nggak mau punya rumah. Kayak, takut banget punya komitmen.
Padahal, mungkin sebenarnya nggak segitu juga.
Kita cuma hidup di zaman yang pekerjaan bisa berpindah, peluang datang dari arah tak terduga, dan kehidupan nggak lagi berjalan lurus kayak zaman dulu.
Makanya, perlu ada perubahan pertanyaan nih. Bukan lagi, kapan mau beli rumah? Tapi, rumah kayak gimana yang benar-benar sesuai dengan cara kita hidup saat ini?
Ya, siapa tahu, rumah masa depan bukan tempat yang kita miliki selamanya. Tapi, tempat yang selalu bisa kita pulangi, ke mana pun karier membawa kita.
Sampai jumpa lagi di tulisanku berikutnya ya, Sobat Cuan-ku! Enaknya nulis apa? Atau kalian punya pertanyaan seputar apa deh? Tulis di kolom komentar ya!
