Dulu aku pernah berpikir, menjadi freelancer itu artinya bebas. Aku bisa kerja dari rumah. Jam berapapun asal sudah punya batasan dengan kehidupan pribadi mah gaskeun.
Nggak ada bos yang memerintah ini dan itu. Aku juga bebas memilih mau kerja sama dengan siapa. Nggak ada yang bisa memaksa kalau aku nggak bersedia mematuhi brief dari klien. Pokoknya, aku merasa sebebas-bebasnya.
Tapi sayangnya, ada yang luput dari perhatianku dan aku baru benar-benar menyadarinya setelah beberapa tahun menggeluti dunia freelance nih. Sobat Cuan-ku, Mau Tahu Apa nggak?
Bebas nggak lantas berarti aku sudah aman. Soalnya, di balik fleksibilitas itu, nggak ada kantor yang otomatis mendaftarkanku ke program jaminan kesehatan.
Nggak ada HRD yang mengurus perlindungan kerjaku. Semua keputusan finansial ada di tanganku sendiri.
Dan kalau bicara tentang financial freedom, ternyata bukan cuma soal punya banyak sumber penghasilan. Tapi, juga soal seberapa kuat aku bisa melindungi apa yang sudah kubangun selama ini.
Mengapa Freelancer dan Blogger Membutuhkan Asuransi?
Banyak orang mengira financial freedom tuh berarti:
- Passive income besar
- Tabungan ratusan juta
- Bisa liburan kemanapun tanpa mikir biaya
Pemikiran itu nggak salah kok. Hanya saja, fondasinya jauh lebih sederhana daripada itu. Yaitu stabilitas dan perlindungan.
Beda sama karyawan tetap yang biasanya sudah terdaftar di BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, aku sebagai freelancer harus mengambil inisiatif sendiri untuk perlindungan finansial, termasuk urusan asuransi.
Seenggaknya, aku punya tiga alasan utama kenapa asuransi itu penting bagiku yang bekerja sebagai pekerja mandiri, yaitu:
- Penghasilanku nggak tetap. Kadang banyak, kadang banyak sekali.
- Aku nggak punya tunjangan kalau sakit. Mau segimanapun sakitnya, tetap saja mengeluarkan dana dari kantong pribadi. Nggak ada yang namanya reimburse.
- Hanya bisa mengandalkan diriku sendiri.
Kebayang nggak sih, Sobat Cuan-ku? Sebagai freelancer dan blogger, aku harus hidup dengan mengandalkan beberapa hal, sebagai berikut:
- Kesehatan
- Skill
- Waktu
- Alat kerja
Bayangin deh! Gimana jadinya kalau salah satunya terganggu? Karena sakit misalnya. Income bisa langsung berhenti.
Di sinila, peran asuransi bukan lagi sekadar produk keuangan. Ia menjadi bagian dari strategi menjaga kebebasan finansial untukku.
Jenis Asuransi yang Cocok untuk Freelancer dan Blogger
1. Asuransi Kesehatan sebagai Pondasi Paling Dasar

Kalau harus memilih satu perlindungan yang paling penting, maka aku akan menjawab dengan sangat jelas dan tegas. Asuransi kesehatan.
Minimal, aku perlu punya jaminan kesehatan dasar, kayak yang tersedia oleh BPJS Kesehatan. Sudahlah iurannya relatif terjangkau, aku juga akan mendapat perlindungan awal jika mengalami risiko medis.
Kenapa ini krusial?
Soalnya, satu kali rawat inap saja bisa menggerus dana darurat yang sudah kukumpulkan bertahun-tahun lho.
Selain itu, bagiku yang kerjanya sebagai freelancer, sakit bukan cuma soal biaya rumah sakit. Tapi juga, soal kehilangan penghasilan.
Nggak mungkin bisa mengerjakan sesuatu kalau aku sedang sakit ‘kan?
Terus Gimana dengan Penyakit Kritis?
Di sinilah aku baru sadar pentingnya perlindungan tambahan. Aku tahu banget, asuransi kesehatan biasanya menanggung biaya perawatan doang.
Sementara itu, perlindungan penyakit kritis memberikan dana tunai saat (amit-amit) aku terdiagnosis penyakit serius, kayak kanker atau stroke.
Dengan begitu, dana ini bukan untuk rumah sakit saja. Tapi, untuk beberapa hal yang lain, misalnya:
- Biaya hidup saat aku nggak bekerja.
- Cicilanku yang tetap berjalan meski sedang sakit.
- Menjaga cash flow-ku tetap stabil
Asal kalian tahu saja nih. Financial freedom tanpa perlindungan kesehatan itu rapuh lho, Sobat Cuan-ku. Soalnya, satu kejadian besar bisa meruntuhkan semuanya.
2. Life Insurance
Saat kalian sudah menikah atau jadi tulang punggung, yang harus menanggung kehidupan keluarga, tapi masih memilih buat jadi freelancer. Aku sarankan untuk mempertimbangkan ikut program life insurance.
Gimana nggak begitu? As freelancer, penghasilan akan sangat bergantung sama kemampuan pribadi. You work and you will get payment.
Kalau sampai ada apa-apa dan bikin kalian nggak bisa kerja, maka otomatis keluarga bakalan kehilangan sumber nafkah utama.
Terus gimana dengan kelanjutan hidup mereka?
Asuransi jiwalah yang akan memberikan santunan. Seenggaknya, keluarga kalian masih punya harapan finansial dari sana.
Bukannya mau negative thinking sama takdir atau apa. Tapi, kalian harus memastikan orang-orang terkasih tetap aman meski kehilangan sumber nafkah utama.
Soalnya, terkadang keamanan keluarga di masa depan jadi bagian dari financial freedom yang sering terlupakan.
Ntar alibinya pada bilang, ya udah sih. Nanti juga ada rizkinya masing-masing.
Big no ya, Sobat Cuan-ku! Kalau emang bisa kalian persiapkan ya mending dipersiapkan dengan baik. Biar nggak kelabakan pada akhirnya.
3. Melindungi Aset Kerja, Soalnya Laptop Bukan Sekadar Barang
Bagi seorang freelancer di bidang digital, alat kerja kayak laptop atau kamera sudah jadi semacam mesin pencetak uang.
Coba bayangin deh! Semisal laptop kalian rusak saat kalian lagi mengerjakan deadline besar. Atau kamera kalian malah jatoh saat liputan.
Aku nggak tahu sih apakah ada produk asuransi yang melindungi alat kerja begitu. Konon katanya, beberapa perusahaan kayak Asuransi Astra menyediakan perlindungan untuk aset atau kendaraan lho.
Bahkan nih ya, kalau mobilitas kerja kalian tinggi banget dan punya kendaraan pribadi. Menurutku sih better daftarin asuransi mobil dah.
Soalnya, itu ‘kan jadi bagian dari aktivitas profesional yang harus tetap terlindungi. Betul nggak, Sobat Cuan-ku?
Ingat ya! Kalian nggak punya instansi atau perusahaan yang bisa menanggung kejadian apapun yang menimpa saat bekerja. Makanya, melindungi aset kerja berarti kalian sudah menjaga kesinambungan penghasilan.
4. Proteksi Hari Tua, Jangan Hanya Fokus pada Hari Ini

Saat ini, mungkin kalian masih muda. Sibuk mengejar proyek dan target bulanan sama sekali bukan masalah yang berarti. Keuangan masih lancar.
Tapi, pernah berpikir nggak? Manusia tuh nggak akan stuck di usia muda atau produktif doang.
Seiring waktu berlalu, kalian akan sampai di masa-masa nggak produktif lagi. Terus, apa yang menopang hidup kalian?
Penghasilan? Nggak mungkin. Kalian sudah nggak produktif.
Tabungan? Bisa jadi. Tapi, seberapa banyak yang sudah kalian kumpulin dan akan habis berapa lama?
Freelancer itu nggak sama dengan karyawan tetap yang sudah punya BPJS Ketenagakerjaan. Di mana saat pensiun, kalian bisa langsung cairkan dana jaminan hari tua.
Saat memutuskan jadi freelancer, kalian harus sudah paham betul kalau kalian harus merancang proteksi pensiun secara mandiri. Ada banyak sih caranya, misalnya:
- Ikut program pensiun mandiri
- Produk proteksi jangka panjang
- Atau strategi investasi terpisah
Financial freedom sejati bukan hanya soal bebas hari ini. Tapi, kalian juga perlu tenang di masa depan.
Kalau Budget Terbatas, Mulai dari Mana?
Oke. Aku paham banget kalau ada beberapa freelancer yang hanya punya budget terbatas. Nggak akan cukup kalau semuanya kalian ambil.
Tenang dulu! Sebenarnya, kalian nggak harus mengambil semuanya sekaligus kok, Sobat Cuan-ku. Ada skala prioritas yang bisa kalian susun, contohnya:
- Asuransi kesehatan (termasuk perlindungan penyakit kritis)
- Life insurance (jika kalian punya tanggungan)
- Perlindungan aset kerja
- Proteksi hari tua
Bangun perlindungan kalian secara bertahap, sesuai dengan kemampuan finansial. Jangan memaksakan diri! Ntar malah ruwet sendiri karena kekurangan dana.
Kalian perlu paham kalau financial freedom bukan lomba cepat. Tapi, sebuah perjalanan yang sudah kalian rencanakan dengan sadar.
Bebas, Tapi Tetap Terlindungi
Menjadi freelancer memang memberi kita ruang untuk memilih jalan sendiri. Tapi, bebas seperti apa dulu?
Kebebasan yang tanpa adanya perlindungan, jelas akan memposisikan kalian dalam kerentanan. Rentan terkena risiko dalam kehidupan.
Lagian ya, asuransi tuh bukan beban lho. Tapi, fondasi keuangan gitu deh.
Aku nggak ada maksud untuk menakut-nakuti masa depan. Cuma, aku perlu memastikan bahwa saat terjadi sesuatu di luar dugaan, aku atau kalian masih bisa tetap berdiri tegak.
Nggak goyah sedikitpun. Soalnya, pada akhirnya, kalian tahu, financial freedom tuh bukan hanya tentang berapa banyak uang yang sudah kalian hasilkan. Tapi, lebih ke apakah kalian siap menjaga yang sudah kalian perjuangkan selama ini?

Bener banget, kebebasan memang penting tapi jangan sampai kita lupa soal perlindungan diri dan finansial. Aku setuju banget sama poin soal asuransi yang jadi strategi untuk menjaga kebebasan finansial. Menurutku, asuransi itu bukan cuma buat sekadar jaga-jaga, tapi juga investasi untuk masa depan. Kayak yang kamu bilang, sakit itu bisa datang kapan aja dan bisa habisin semua tabungan yang udah dikumpulkan lama. Tapi, aku penasaran, apa ada asuransi yang bisa cover biaya transportasi atau alat kerja juga? Soalnya, kalau sampai alat kerja rusak atau hilang, itu bisa bikin kita nggak produktif sama sekali. Apa kamu punya rekomendasi asuransi yang bagus untuk freelancer kayak kita? Aku rasa ini penting buat dibahas lebih dalam, karena bisa jadi banyak yang belum sadar pentingnya perlindungan ini. Gimana menurutmu?
Asuransi kesehatan sih yang paling utama, seorang Freelancer yang kerjanya bebas tidak terikat jam kerja pun wajib terlindungi dan punya jaminan kesehatan, bahkan mamang saja nih yang kerjanya cuma jadi Penggembala Keong di Desa punya Asuransi kesehatan dan Ketenagakerjaan juga.
Alhamdulillah di tempat mamang ada program Jaminan sosial bagi pekerja informal/mandiri (bukan penerima upah) berpenghasilan rendah dan berisiko tinggi, seperti mamang nih yang kerjanya jadi Freelancer Sawah….
Bener mbak, salah satu kelemahan freelancer ya hanya mengandalkan diri sendiri kalau misalnya amit2 sakit. Namun sebagai WNI, no satu BPJS penting sih yaa. Semoga nggak pernah dipakai dan nyumbang doank buat nolak penyakit deh. Meski demikian juga sebaiknya dipikirkan kalau ada platform asuransi yang bisa hadle kebutuhan freelancer ya sebaiknya dipertimbangkan untuk memilikinya.
Setuju, selain melindungi badan dan jiwa sebaiknya juga ada asuransi untuk aset2 terkait produktivitas.
Lalu, hal paling penting adalam merencanakan pensiun ya, karena memang nggak dapat pensiunan huhu. Semoga ada jalannya kita bisa mengumpulkan banyak cuan di masa produktif buat nambah2 jaminan hari tua aamiin.
Benar sekali ini Mbak. Dulu saat memutuskan jadi freelance yang saya pikirkan hanya soal pemasukan tak menentu saja. Dam ternyata saya lupa soal asuransi kesehatan yang tak ada. Padahal modal utama seorang freelance adalah kesehat. Kapan sakit, maka semua buyar termasuk penghasilan akan zonk. Jadi sebelum terlambat, saya harus bergegas nih, menyiapkan asuransi.
Baca artikel ini berasa kecubit deh. Aku yang lagi menjalani freelance dan sambil nyari full timer, berasa struggle banget dengan income yang tidak pasti.
Jadi emang butuh di siapkan secara matang ya terkait jaminan kesehatan, keselamatan, terutama para freelance yang tidak punya payung tetap untuk berteduh. Semakin sadar kalau alat kerja freelance itu kesehatan salah satu pondasi utama.
Asuransi kesehatan hingga jaminan hari tua beneran mesti di fokuskan sih. Jangan sampai tidak ada persiapan sama sekali.
Asuransi dasar kayak asuransi kesehatan begitu memang diperlukan, karena kita nggak tahu kapan momennya diri ini buat sejenak beristirahat biar badan pulih. Apalagi buat freelance yang notabene waktu kerjanya fleksibel yang terbilang rentan kan
Dulu aku juga merasa bebas-bebas saja, tapi baru sadar kalau aset terbesar freelancer itu ya kesehatan dan alat kerja kita sendiri.
Setuju banget kalau asuransi kesehatan jadi pondasi awal. Apalagi buat kita yang nggak punya sistem reimburse kantor, sakit sedikit saja bisa bikin cash flow berantakan. Terima kasih sudah diingatkan untuk tidak hanya fokus kejar proyek, tapi juga proteksi hari tua.
Yang jelas, profesi apapun kudu butuh proteksi.
kalo dalam hal financial, dan tentu kita butuh asuransi yg kredibel, reliable dan dapat diandalkan.
apalagi saat urgent/ tiba2 sakit dst.
asuransi penting bgt
Sepakat, menginspirasi mbak
Bebas bukan berarti tanpa batas, kita tetap perlu merencanakan masa depan, melindungi aset, melindungi kesehatan dan itu semua diatur mandiri secara kita bekerja mandiri
Setujuuuuu. Waktu msh ngantor, aku msh santai mikirnya Krn ada asuransi kesehatan dan kematian dari kantor . JD pas sakit terjamin, pas meninggal pun keluarga dpt uang pertanggungan. Tapi setelah resign, aku mikirnya udh beda..ga ada income, selain dari suami. Ttp aja aku hrs ada perlindungan diri.
Yg pertama aku daftarin asuransi penyakit kritis. Itu dulu sih. Kalau penyakit biasa, msh bisa dari asuransi suami yg juga mengcover istrikan.
Trus baru aku bikin juga asuransi jiwa. Krn aku dan suami suka traveling ke Negara2 antimainstream. JD kami hrs ada pegangan supaya anak2 tetap terjamin hidupnya setelah kami ga ada. Yg trakhir ini memang harus dipastikan kalau asuransi nya mengcover juga saat traveling ke Negara2 yg beresiko .
Kesehatan itu tetap yg utama, apapun kerjaan kita. Bahkan kita yg freelancer, jaminan kesehatan itu hrs tetap kita punya. Jaga2, amit2 kalo kena musibah sakit, kita bs tetap dpt jaminan. Meski kita sendiri yg bayar, ya iyalah masak perusahaan. Kan freelancer. Hehe. Tp duitnya ya nyisihin dr pendapatan klien/perusahaan. Wkwk
Minimal kalo ga bs bayar mandiri, punya asuransi kesehatan gratis dr pemerintah itu udh wajib sih. Kalo mampu bs bayar yg mandiri, tentu dgn jaminan lbh bgs pelayanannya dan perlindungannya.
Smg kita selalu sehat2 ya kak biar cuannya tetap mengalir dan dapur tetap ngebul. Salam freelancer.
Kondisi seorang freelancer pasti berbeda dengan pegawai tetap yang memiliki pendapatan tetap setiap bulannya sehingga membutuhkan asuransi yang berbeda tapi yang bisa memastikan mereka bisa terproteksi dengan baik karena apapun pekerjaannya harus memiliki proteksi yang baik dan benar untuk melindungi mereka dari berbagai kondisi yang ada setiap saat karena kondisi orang berbeda
Kondisi finansial setiap orang memang gak sama pun kebutuhannya.
Memang yang terbayang ketika freelancer ini gajian, rasanya ingin konsumtif yaa.. tapi inget kalau ada hal tak terduga, lebih baik dialokasikan untuk dana yang lebih bermanfaat.
Baguuss.. aku pun kalau asuransi kesehatan hanya mengandalkan yang dari pemerintah ituu..
Dan pastinya pilih yang tidak memberatkan ahli waris jika kemudian memiliki asuransi
Selain itu, sebisa mungkin manfaatnya benar-benar untuk semua anggota keluarga, paling penting yang inti sehingga sepeninggal kita tidak menjadikannya sebagai bahan pertengkaran juga
Bener ya, asuransi jaman sekarang itu terasa penting. Apalagi buat freelancer yang nggak punya fasilitas dari perusahaan. BPJS kesehatan minimal harus punya. Asuransi lainnya bisa menyusul bertahap.
Semoga kita semua dimudahkan jalannya apapun profesinya. Sehat selalu!
Jujur, nggak cuma Freelance doang yang begini mbak. Hampir semua pekerja, apalagi yang kalangan non professional itu butuh yang namanya asuransi.
Ini tempat kerjaku pun, boro-boro ngasuh tunjangan atau coverage buat asuransi. bahkan sekedar BPJs aja aku masih bayar mandiri, hiks
Makanya jujur kepengen pindah cari tempat kerja yang lebih oke si. Minimal ada asuransi kesehatan yang bisa cover sekeluarga. Baru eh nantinya daku pengen ‘upgrade’ ke asuransi lain, seperti asuransi jiwa, asuransi pendidikan dan lain-lain.
Pulang ngaji kesandung ember
Langsung bangkit dan berlari-lari
Sudah mah gaji sekadar u em er
Kalo sakit eh ditanggung sendiri
prioritas ku asuransi kesehatan buat keluarga. Kami tidak bekerja di perusahaan teh , kami wirausha jadi aku pas nikah udh ffokus asuransi kesehatan minimal yg safety. Awalnya emng emgn sempet repot ngurusin pndaftarann asuransi kesehatan karena aku urus sendiri beda pas jaman kerja hehe tau beres
noted sih buat freelancer memang memilih asuransi yg cocok kita memang ga boleh asal, skala prioritas adalah kunci uttamanya, terimaksih tth untuk ulasan dan tipps nya
Setuju sekali dengan poin mengenai asuransi kesehatan sebagai prioritas utama karena jam kerja kita yang seringkali tidak menentu. Penjelasan tentang asuransi penyakit kritis juga jadi pengingat penting, mengingat kita tidak punya ‘dana darurat’ dari kantor kalau sampai terjadi risiko kesehatan yang berat.
walaupun kadang alurnya ribet dan harus antri, nggak bisa dipungkiri BPJS kita itu membantu banget bagi mereka yang harus menjalani pengobatan jangka panjang. jadi memang sih salah satu asuransi yang setidaknya harus dimiliki seseorang itu adalah asuransi kesehatan
Sebagai seorang freelance, saya rasa untuk mengambil asuransi harus berpikir panjang terlebih dahulu, Penghasilan tidak menentu jadi tantangan, tapi kalau freelancenya matang dengan pakai kontrak kerja yang jelas dan fee yang OK, terus masa kerja sama panjang, boleh dipertimbangkan. Saya baru tahu lho kemarin freelance katanya juga kena pajak.