Bukan Cuma Harga Makanan yang Naik, Biaya Kesehatan Juga

tren kenaikan biaya kesehatan

Sobat Cuan-ku pada merasakan ada kenaikan biaya kesehatan nggak sih? Wajar sih kalau pada nggak aware. Nggak setiap hari juga kita sakit dan butuh fasilitas kesehatan. Paling yang cepet kerasa ya harga makanan atau bahan yang kita pakai sehari-hari.

Belakangan, emakku yang pedagang ikan mulai mengeluh. Katanya, harga plastik naik. Makanya, beliau memintaku untuk mengumpulkan plastik yang kuterima saat membeli barang. Biar nggak usah beli plastik gitu deh. Mengurangi biaya modal tambahan.

Itu baru urusan perdagangan skala rumah tangga. Gimana sama urusan belanja rumah tangga. Ada yang naik juga nggak harganya?

Ya sudah pasti. Tiap belanja kebutuhan rutin, kadang aku jadi membandingkan harga yang sekarang sama harga yang pernah kuingat beberapa tahun lalu. Semacam menambahkan alasan untuk kepala puyeng gitu deh.

Perubahan harga kebutuhan sehari-hari, kayak bahan makanan dan plastik untuk emakku dagang ikan, memang lebih mudah kusadari. Soalnya, mau nggak mau aku berhadapan dengannya hampir setiap hari.

Beda cerita sama biaya kesehatan. Kenaikannya nggak mudah terasa. Wong aku nggak pergi ke dokter atau rumah sakit setiap hari.

Kalaupun ada om atau tanteku yang berurusan dengan lembaga kesehatan, kayak puskesmas atau rumah sakit. Biasanya, mereka menggunakan layanan BPJS Kesehatan.

Jadi, seolah-olah nggak ada biayanya. Alias gretong. Kalau sudah begitu, gimana pula kita menyadari soal biaya kesehatan yang ikutan naik?

Kenapa Biaya Kesehatan Bisa Terus Naik?

faktor yang memengaruhi biaya kesehatan

Awalnya, aku mengira kenaikan biaya kesehatan terjadi karena harga obat yang makin mahal. Masuk akal ‘kan?

Baca juga:  Istilah dalam Asuransi yang Wajib Kita Tahu Sebelum Beli Polis!

Sayangnya, penyebab kenaikan biaya kesehatan nggak sesederhana itu. Ada banyak faktor yang saling berkaitan dan ikut memengaruhi biaya layanan kesehatan yang kita gunakan saat ini.

Sobat Cuan-ku mau tahu apa saja faktornya?

Meski terdengar rumit, aku bakalan coba menuliskan alasannya biar kita sama-sama memahami.

1. Teknologi Medis Semakin Berkembang

Salah satu alasan yang cukup mudah kupahami adalah perkembangan teknologi medis.

Saat ini banyak sekali alat pemeriksaan dan metode pengobatan yang jauh lebih canggih ketimbang sebelumnya.

Kehadiran teknologi tersebut tentu membawa manfaat besar. Soalnya, membantu tenaga kesehatan memberikan diagnosis dan penanganan yang lebih akurat.

Namun, di balik kemajuan itu, ada biaya yang perlu dikeluarkan, baik untuk pengadaan, perawatan, hingga pembaruan teknologi.

Pada akhirnya, faktor tersebut ikut memengaruhi biaya layanan kesehatan secara keseluruhan. Gimana menurut kalian?

2. Banyak Obat dan Alat Kesehatan Masih Bergantung pada Impor

Alasan lainnya adalah masih banyak obat maupun alat kesehatan yang berkaitan dengan pasar global. Ambil contoh, pas pandemi covid beberapa waktu lalu.

Vaksinnya impor semua tuh kayaknya. Meskipun kitanya nggak bayar untuk dapat vaksin, tetap saja pemerintah mengeluarkan uang untuk membelinya.

Ya kalau biaya produksi meningkat atau nilai tukar mengalami perubahan, sudah pasti harga yang harus dibayar oleh fasilitas kesehatan juga bisa ikut berubah. Iya apa iya, Sobat Cuan-ku?

Dampaknya mungkin nggak selalu terlihat secara langsung oleh masyarakat, tetapi perlahan tapi pasti bisa sangat memengaruhi biaya layanan yang diterima pasien.

3. Fasilitas Kesehatan Juga Menghadapi Kenaikan Biaya Operasional

Rumah sakit dan klinik juga punya kebutuhan operasional yang nggak sedikit.

Mulai dari biaya perawatan gedung, pengelolaan peralatan medis, pengembangan layanan, sampai kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas.

Semua itu butuh investasi yang terus berjalan.

Logikanya, saat biaya operasional meningkat, fasilitas kesehatan tentu perlu menyesuaikan berbagai aspek biar layanannya tetap bisa berjalan dengan baik.

Kita Nggak Tahu Kapan Akan Membutuhkan Biaya Kesehatan

kebutuhan kesehatan nggak terduga

Menurutku, bagian yang paling bikin biaya kesehatan berbeda dari pengeluaran lain adalah sifatnya yang sulit diprediksi.

Baca juga:  Kenapa Milenial Perlu Punya Asuransi Kesehatan? Ini 7 Alasannya!

Kalau aku ingin beli laptop baru, aku bisa merencanakannya. Waktu aku mau liburan, aku selalu bisa menyusun anggaran jauh-jauh hari. Tapi, kebutuhan kesehatan sering datang tanpa notifikasi.

Hari ini mungkin kita sehat dan bisa beraktivitas kayak biasa. Eh, besok atau beberapa bulan lagi, situasinya bisa saja berbeda.

Ya, bukan berarti kita harus selalu hidup dalam kekhawatiran. Hanya saja, kenyataan bahwa kebutuhan kesehatan bisa muncul kapan saja bikin topik ini terasa penting untuk dipahami.

Menyiapkan Diri Nggak Harus Menunggu Sakit

langkah menyiapkan biaya kesehatan

Setelah tahu beberapa alasan di balik kenaikan biaya kesehatan, aku jadi paham bahwa kondisi ini bukan sesuatu yang bisa kita hindari begitu saja. 

Kita jelas nggak bisa mengendalikan harga layanan kesehatan. Siapa sih kita ini? Bukan pembuat kebijakan dan semacamnya. Tapi, se-nggaknya kita masih bisa mempersiapkan diri biar nggak terlalu kaget jika suatu saat butuh.

Kabar baiknya, persiapan ini tuh nggak harus menunggu sakit atau mengalami keadaan darurat terlebih dahulu. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa mulai kupikirkan dari sekarang.

1. Mulai dari Dana Darurat

Salah satu hal yang sering banget kubahas dalam perencanaan keuangan adalah pentingnya dana darurat.

Dana ini bisa jadi penyangga saat muncul pengeluaran yang nggak kurencanakan, termasuk kebutuhan kesehatan tertentu.

Meski jumlahnya mungkin nggak selalu cukup untuk menanggung seluruh biaya medis, se-nggaknya dana darurat akan bantu untuk mengurangi tekanan finansial saat situasi yang nggak terduga terjadi.

2. Memanfaatkan Perlindungan yang Sudah Ada

Selain dana darurat, ada baiknya kita juga memahami perlindungan yang sudah dimiliki. 

Misalnya fasilitas kesehatan dari tempat kerja atau pemerintah juga program perlindungan kesehatan yang tersedia melalui berbagai skema. 

Kadang kita punya manfaat tertentu, tapi belum benar-benar paham gimana cara menggunakannya secara optimal.

3. Mengenal Asuransi Kesehatan Lebih Dini

Belakangan aku juga makin sering membaca berbagai pembahasan tentang asuransi kesehatan. Menariknya, aku pernah juga lho menulis artikel tentang punya dua asuransi sekaligus.

Baca juga:  Punya Dua Asuransi Kesehatan! Bijak atau Mubazir?

Aku paham sih, kenapa orang butuh dua asuransi kesehatan sekaligus. Mau gimana pun kebutuhan setiap orang memang beda-beda.

Ada yang merasa perlindungan tertentu sudah memadai, ada juga yang memilih untuk menambah perlindungan sesuai kondisi dan kebutuhan keluarganya.

Dari situlah, aku mulai belajar bahwa paham sama pilihan yang tersedia jauh lebih penting ketimbang sekadar mengikuti keputusan orang lain.

Apa Pelajaran yang Kudapat

Makin banyak membaca tentang biaya kesehatan, makin aku menyadari bahwa kenaikannya memang nggak selalu terlihat secara kasat mata.

Kita mungkin lebih sering membahas harga makanan, tagihan listrik, atau biaya transportasi karena semuanya memang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Sedangkan biaya kesehatan sering berada di latar belakang sampai saat kita benar-benar membutuhkannya.

Padahal ketika kebutuhan tersebut datang, dampaknya terhadap keuangan bisa jauh lebih besar ketimbang kenaikan beberapa pengeluaran rutin lainnya.

Makanya, aku merasa topik ini menarik untuk dipelajari, bahkan oleh orang yang saat ini masih sehat dan jarang berurusan dengan fasilitas kesehatan.

Biaya Kesehatan Memang Naik, Lalu Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Harga makanan mungkin jadi salah satu kenaikan yang paling mudah kita sadari. Hampir setiap hari kita melihatnya secara langsung.

Namun, ternyata bukan hanya harga makanan yang bergerak naik. Biaya kesehatan juga mengalami peningkatan dari waktu ke waktu karena berbagai faktor, mulai dari perkembangan teknologi medis hingga biaya operasional fasilitas kesehatan.

Mungkin kita nggak bisa mengendalikan kenaikan biaya tersebut. Tapi, kita bisa mulai memahami kenyataannya dan mempersiapkan diri dengan lebih baik.

Soalnya, saat membahas tentang kesehatan, sering kali yang sulit bukan cuma menjaga kondisi tubuh tetap prima. Tapi, juga memastikan kondisi keuangan tetap aman saat kebutuhan kesehatan datang tanpa terduga.

Mau bahas apa lagi nih, Sobat Cuan-ku? Apa kita bahas risiko keuangan saat sakit mendadak? Atau kalian ada topik tentang asuransi kesehatan lainnya yang perlu kutulis di sini? Komen ya!

By Yuni

Seorang blogger yang suka membaca dan menulis. Lebih suka menulis tentang gaya hidup dan belajar tentang mengelola keuangan dan membagikan apa yang sudah dipelajari dalam tulisan

20 thoughts on “Bukan Cuma Harga Makanan yang Naik, Biaya Kesehatan Juga”
  1. Biar kesehatan seperti biaya yang lain makin ke sini makin mahal. Itulah kenapa sehat itu mahal. tapi bisa kita kalah dengan tetap hidup dengan gaya sehat supaya badan kita sehat. dan saya setuju dengan asuransi kesehatan yang harus kita miliki karena sangat membantu apabila kita membutuhkannya

  2. BEtul sekali ya mbak, biaya kesehatan cenderung naik tinggi di setiap tahunnya.
    Kita harus melakukan perencanaan jangka panjang, tidak cuma mengandalkan Dana Darurat saja, tapi memang harus ada anggran terpisah khusus untuk biaya kesehatan (disamping BPJS yang sudah ada)

  3. Memang banyak rasa insecure yg dialami rakyat +62.
    apalagi klo dah jatuh sakit.. atau kena penyakit yg butuh pembiayaan wadidaw
    bisa jadi kalangan Sadikin (Sakit mendadak miskin)
    harus bs antisipasi sejak awal ya, dengan asuransi yg tepat.

  4. Bener kata Kak Yuni, kalau nggak lagi sakit, kita sering abai sama inflasi medis. Padahal kalau sekali opname, biayanya bisa bikin tabungan langsung nangis. Cerita soal emak yang hemat plastik itu potret nyata banget kalau semua sektor emang lagi berjuang. Setuju banget kalau dana darurat dan asuransi kesehatan itu wajib disiapin dari sekarang sebelum telat.

  5. Itulah kenapa menjaga kesehatan sedari awal memang lebih penting ya mba. Karena setelah sakit, biayanya jauuuuuh lebih mahal.
    Tp ga mungkin juga ga peduli dengan biaya rumah sakit, namanya sakit, kita ga tahu kapan DTG.

    Aku sendiri ada asuransi kesehatan rawat jalan dari kantor suami, yg untungnya aja besar dan mengcover keluarga dengan 3 anak. JD tenang lah.

    Trus akupun ada asuransi kesehatan khusus utk penyakit kritis. Amit2 kalau nanti kena sakit kritis, at least dananya bisa dicairin langsung oleh perusahaan asuransi . Jadi aku rutin bayar premi nya aja tiap 6 bulan sekali. Ini utk proteksi lah. Ga berjarak kena, tp kalaupun nanti kena, ga kelabakan cari dana.

  6. Masih impornya obat-obatan ini bikin meng-sedih ya. Semoga bisa suatu saat banyak kesempatan di negeri kita ini lahir generasi sehingga kita ga impor obat lagi, tapi bisa ekspor obat, aamiin

  7. Kadang kita baru sadar biaya berobat itu mahal ketika sudah benar-benar membutuhkannya. Aku juga jadi berpikir pentingnya punya dana darurat atau asuransi sejak masih sehat, meski sering terasa belum prioritas. Apalagi sekarang biaya layanan kesehatan memang cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun.

    Makanya tuh, aku sekarang berusaha banget supaya kalau sedang nggak fit, rehat dulu seharian. Daripada maksain malah sakitnya makin kemana-mana.. 🙁

  8. betul, kita kan gak merencanakan aku bulan depan bakal sakit jadi harus siap uang sekian2 buat beli obat. Untuk paling aman, selain BPJS bisa mempertimbangkan ikut asuransi. Tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing2. Biaya kesehatan naik karena faktor2 yg disebutkan itu memang masuk akal. Jadi daripada shock pas bayar, mesti bijak menyisihkan dana untuk hal2 darurat.

  9. Berhubung saat ini ibu saya sakit, jadi terasa banget beli obat ini itu, Mbak. jasi otomatis termasuk biaya kesehatan juga naik. Beli obat minggu lalu segini harganya, minggu depan beda lagi harganya. Makanya benar sih, sehat itu mahal. Makanya setuju, harus ada asuransi kesehatan, juga sedia dana cadangan. Paling penting terus jaga kesehatan.

  10. Biaya berobat naik, tapi gaji ga naik2. Amsyong. Yg berwirausaha, mkn susah dpt pelanggan. Pokoknya tahun ini tuh udh pengetatan ikat pinggang bgt deh. Tp masalahnya, biaya berobat malah naik. Mana harga obat jg naik gila2an.

    Sepekan lalu, aku mengantarkan ibuku kontrol. Karena berobat lewat BPJS hanya dibatasi 3 penyakit, jd kalo ada penyakit lain, di luar yg ditanggung selama proses rujukan itu, ya hrs biaya sendiri. Ga main2 loh biayanya. Untungnya penyakit ibuku msh kategori ringan. Paling ya hrs bayar sejuta buat kontrol mandiri. Tp kalo bs gratis, kan mayan bgt ya di era ekonomi kayak gini tuh.

  11. Betul, sekarang mau disadari atau tidak, inflasi dan inflasusut tuh sudah mulai menggerogoti daya beli kita semua. Harga-harga makin mahal, sementara pendapatan naiknya malah nggak signifikan. Makanya duh, sedih banget kalo dipikirin mah.
    Tp kalo saya pribadi sih, minimal ada BPJS aja lah ya, buat first option kalau ada kebutuhan darurat. Kebetulan untuk penggunaannya pun, lumayan oke lah ya. Meski kadang obat yang didapat gak ‘wow’ tp secara penanganan sudah baik sekali.,

  12. Samaan mbak, aku dulu makin buang2 aja, apalagi plastik yang bentuknya kotak itu. In this era, aku bela2in nyuci lagi mayan buat simpen2 apa gitu di kulkas hehe.
    Kalau belanja2 sekarang kyk detergen, dll kalau bisa membeli galonan aku beli kyk gitu mbak, jadi bisa dipakai buat 2 bulan bahkan lebih. Cukup hemat.
    Soal kesehatan, hmmm, setiap berdoa selalu nggak lupa menyelipkan doa minta kesehatan dan dijauhkan dari penyakit sama Allah aamiin.
    Di negara ini, hingga saat ini, untuk fasilitas kesehatan keknya sebagai rakyat kita belum bisa merasakan perhatian pemerintah secara maksimal.
    Memang ada BPJS yang bisa kita banggakan, namun ini pun katanya merugi mulu dan kasihan dokter2nya kadang bayarannya dari sini miris.
    Makanya kalau ada rezeki sebaiknya cover asuransi kesehatan juga, tapi amit2 yaa moga kita semua sehat selalu.
    Kalau mau dapat layanan bagus pakai teknologi dll yg OK buat cek kesehatan tentu kudu punya duit banyak jga hiks.
    Sama satu lagi deh, jaga gaya hidup, kek kurangin mager dan makan makanan kurang sehat gitu. Krn lebih baik mencegah daripada mengobati, yekaan.

  13. Lini kesehatan memang gakkan mungkin dilewatkan yaah.. Selalu urgensinya masuk sjala prioritas yang gak mungkin ditunda.
    Dengan tips keuangan yang diterapkan di atas, kita semua mungkin merasakan kenaikan biaya kesehatan, tapi semoga dengan adanya dana darurat, bisa meminimalisir kekhawatiran.

  14. dengan naiknya biaya kesehatan, ini menjadi pertanda agar kita lebih memperhatikan kondisi tubuh karena dengan naiknya biaya pasti akan berpengaruh pada pendapatan sekaligus pengeluaran setiap harinya. kita harus menganggarkan biaya tak terduga

  15. Betul banget mba. Sekarang biaya kebutuhan hidup naik. Biaya kesehatan pun naik juga. Aku berharap semoga gaji nakes pun juga ikut naik..

    Aku sekeluarga pakai BPJS Kesehatan. Memang cukup membantu banget, apalagi saat kondisi yang darurat dan butuh penanganan dnegan iaya besar tapi bis dicover BPJS Kesehatan. Tapi memang kalau ada budget lebih bisa double asuransi untuk perlindungan lebih maksimal.

  16. Saya sepakat, kenaikan harga nbahan makanan maupun kesehatan sepertinya adalah hal yang mustahil kita hindari. Jadi akan lebih baik jika kita prepare dari awal, dengan dana darurat misalnya, ini lebih realistis. Sehingga kalau qadarullah ada yang sakit kita tidak gelagapan. Ibarat kata sedia payung sebelum hujan, bukan berharap kita atau keluarga akan sakit tapi jaga-jaga agar lebih tenang dan siap dalam segala kondisi.,

  17. In this economy ya mbak. Semua pada naik, gaji aja nih yang nggak naik-naik. Eh malah curhat hahahaha…

    Kalau untuk kesehatan, menurutku selain penting menjaga tubuh agar tetap sehat, perlu pula punya asuransi. Minimal banget punya BPJS. Anakku kemarin habis masuk RS selama 5 hari. Lumayaj banget tagihannya. Untung ditanggung asuransi.

  18. Ya Allah,,,,in this economy,,,apa yang gak naik yaaa,,,kemarin saya ke warung membeli sayur, harga labu siam kecil yang biasa buat lalapan,,,,harganya 2000 sebutir, itu labu kecil lho,,,,mahal kali yaaa,,,,,apalagi harga obat yang kebanyakan masih impor bahannya ,,,,pantas naik,,,semua naik,,,semoga kita selalu sehat dan kalau sakit cukup dengan obat generik yang murah meriah,,,gak harus obat-obat mahal

  19. kenaikan biaya kesehatan ini kadang memang nggak ketahuan ya karena jarang-jarang kan ya orang ke rumah sakit tiap hari. mungkin berasanya pas beli vitamin atau obat rutin kali ya. tapi pastinya memang kita harus selalu menyiapkan dana buat kesehatan ini dan bagusnya juga punya asuransi kesehatan yang cukup membantu jika harus berobat ke dokter atau rumah sakit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *