Halo Sobat Cuan-ku! Tahu sendiri ‘kan dunia sekarang tuh sudah serba digital? Terus gimana dengan UMKM di era digital ya? Apakah mereka bisa ikut melangkah? Atau malah harus tertinggal?
Sadar atau nggak, dunia bisnis sekarang ini memang berubah terlalu cepat. Nggak heran kalau UMKM jadi kelihatan minder. Mereka takut ketinggalan zaman karena semua serba digital.
Tapi tenang! Jangan keburu pesimis dulu. Justru, era digital ini bisa membawa banyak peluang baru buat UMKM yang mau terus melangkah.
Kuy kita bahas sama-sama! Biar rasa “takut ketinggalan” itu bisa berubah jadi booster para UMKM untuk maju.
Tantangan UMKM di Era Digital
UMKM tuh emang sering banget dianggap ketinggalan zaman. Gara-garanya ya modal yang terbatas, akses teknologi juga terbatas, dan cara kerja yang serba manual.
Sekarang di tengah dunia digital yang semakin maju, seharusnya sudah nggak ada lagi stigma begitu. Iya dong. Apa sih yang nggak terjangkau dengan teknologi?
Cuma ya memang, selalu ada tantangan dalam setiap perubahan. Begitu juga halnya dengan UMKM di era digital. Sebelum menyiapkan strategi yang tepat, Sobat Cuan-ku harus paham dulu sama tantangannya.
1. Modal Pas-Pasan, Gimana Dong?
Sobat Cuan-ku, salah satu alasan banyak pelaku UMKM minder buat go digital adalah karena modal yang terbatas. Rasanya kayak mustahil gitu bisa bersaing sam brand besar yang punya dana promosi miliaran.
Selain itu, ada banyak pelaku UMKM yang masih kesulitan investasi ke teknologi baru. Belum lagi, mereka pasti akan membutuhkan tenaga kerja yang paham digital. Kadang jadi terasa berat.
2. Gaptek Jadi Hambatan Serius
Bayangin deh Sobat Cuan-ku! Ada seorang ibu penjual kue basah di pasar tradisional. Beliau jago banget bikin jajanan enak, mulai dari klepon sampai onde-onde.
Tapi pas anaknya menyarankan buat jualan lewat online, biar pembelinya lebih banyak. Si ibu langsung bingung. Beliau merasa gaptek gitu lho. Nggak tahu gimana caranya jualan online.
Nah, cerita kayak gini tuh bukan hal yang asing. Banyak lho pelaku UMKM yang punya produk berkualitas, tapi tersendat karena keterbatasan kemampuan teknologi.
Tapi kabar baiknya, gaptek itu bukan tembok permanen. Sekarang sudah banyak pelatihan gratis maupun murah yang bisa diikuti, mulai dari yang diselenggarakan Kemenkop UKM, sampai kelas daring singkat di YouTube atau marketplace.
Bahkan beberapa aplikasi sudah didesain super sederhana. Jadi kita tinggal klik-klik sedikit, produk langsung bisa tayang deh.
3. Ketatnya Persaingan dengan Brand Besar

Sobat Cuan-ku, pernah nggak sih merasa minder saat lihat produk UMKM kita ada di marketplace, eh malah bersanding dengan brand besar yang iklannya bejibun?
Misalnya, ada seorang pengrajin tas kulit di Jogja. Produknya handmade, detailnya rapi, dan kualitasnya nggak kalah dengan tas bermerek.
Tapi begitu masuk e-commerce, ia merasa produknya tenggelam di antara diskon gede-gedean dari brand global.
Rasanya memang berat, tapi bukan berarti mustahil untuk bersaing. Brand besar mah boleh saja punya iklan mewah, tapi UMKM punya “senjata rahasia” yaitu kedekatan emosional.
Coba deh cerita tentang siapa yang membuat produk, proses kreatifnya, atau nilai lokal yang dijaga. Produk UMKM pasti bisa kok menonjol di hati konsumen.
Peluang Besar untuk UMKM di Era Digital
Nah, setelah tahu tantangannya, sekarang mari lihat sisi positifnya. Justru dengan adanya perubahan digital, UMKM punya peluang besar yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau lho.
Kalau dulu pasar hanya terbatas di radius beberapa kilometer dari lokasi toko, sekarang bisa sampai lintas pulau.
Sampai bulan September 2023, Putu Indah Savitri menyebutkan dalam liputannya bahwa 22,81 juta UMKM sudah tergabung dengan ekosistem digital.
Itu artinya, semakin banyak pelaku usaha kecil yang mulai memanfaatkan teknologi buat memperluas pasar. Dan kabar baiknya adalah selalu ada ruang baru buat UMKM lain ikut nimbrung.
1. Pasar Online, Buka Jalan Lebar
Sobat Cuan-ku, pernah nggak ngerasain betapa repotnya kalau jualan cuma mengandalkan toko fisik doang?
Dulu, mantan managerku di perkebunan kelapa sawit pensiun. Lalu beliau mulai menekuni usahanya berjualan madu hutan asli.
Kulihat, beliau harus ikut pameran atau nungguin orang mampir ke rumahnya buat dapat pembeli. Itu pun nggak pasti apakah pembelinya akan datang setiap hari atau nggak.
Kebanyakan juga pembeli yang datang ya dari mantan staff dan anggotanya di kebun. Dengan begitu, perkembangannya terasa sangat lambat.
Tapi, ceritanya berbeda sewaktu anaknya mendaftarkan produk madu hutan aslinya ke marketplace. Pesanan bisa datang dari berbagai kota, bahkan ada pembeli setia dari Papua yang tiap bulan rutin order.
Padahal bapak ini nggak punya toko besar, cuma rumah sederhana dengan stok madu yang ia panen sendiri. Keren ‘kan?
2. Promosi Murah Meriah, Hasil Maksimal

Kalau Sobat Cuan-ku bisa bikin konten sederhana tapi menarik, potensi dilihat orang jauh lebih besar ketimbang nunggu pembeli mampir ke toko lho.
Jadi, jangan remehkan kekuatan promosi digital ya! Nggak harus pakai iklan berbayar dulu kok, mulai aja dari hal sederhana.
Kalian bisa upload foto produk yang cantik, kasih caption jujur tentang cerita produknya, atau bikin video singkat soal proses produksi. Ingat ya! Orang-orang sekarang tuh lebih suka yang real dan autentik.
3. Teknologi yang Jadi Sahabat UMKM
Sobat Cuan-ku, dulu ada banyak pelaku UMKM yang merasa teknologi tu ribet, mahal, dan cuma buat perusahaan besar. Tapi sekarang, teknologi justru bisa jadi sahabat dekat UMKM.
Meski skala usahanya masih kecil, kalian bisa lho memanfaatkan aplikasi kasir. Dengan begitu, pencatatan keuangan bisnis bisa lebih profesional dan mudah kalian jadikan acuan untuk mengembangkan bisnis.
Selain aplikasi kasir, ada juga platform desain gratis buat bikin poster promosi, aplikasi chat buat pelayanan pelanggan, sampai tools analitik sederhana untuk tahu siapa pembeli paling setia.
Semua ini bisa kalian akses hanya dengan modal kuota internet dan smartphone doang. As simple as that.
4. Produk Lokal Makin Dilirik
Sobat Cuan-ku, pernah nggak lihat tren belanja sekarang? Banyak orang, terutama anak muda, mulai bangga pakai produk lokal lho.
Dengan begitu, kita nggak perlu minder sama produk luar negeri. Justru inilah saatnya menonjolkan keunikan, cerita, dan nilai khas dari produk yang kita buat.
Soalnya, di balik setiap produk lokal, ada cerita asli Indonesia yang nggak bisa ditiru sama siapa pun. Benar nggak?
Strategi Agar UMKM Nggak Ketinggalan Zaman
Sobat Cuan-ku, kita semua tahu kok tantangan bisnis bagi UMKM itu nyata. Mulai dari modal yang terbatas, gaptek, sampai harus bersaing dengan brand besar.
Tapi kabar baiknya, selalu ada jalan buat UMKM untuk terus relevan. Ingat kata pepatah!
“Kalau nggak bisa lari kencang, jalan aja dulu yang penting terus melangkah.”
Begitu juga dengan usaha kecil. Nggak perlu langsung canggih lho. Mulai saja dulu dari langkah sederhana. Ntar lama-lama bisa maju juga kok.
Nah, biar lebih kebayang, yuk kita lihat strategi apa aja yang bisa Sobat Cuan-ku coba!
1. Mulai dari yang Sederhana
Kebayang ‘kan cerita dulu! Ada penjual pecel lele di pinggir jalan. Kalau mau order, kita harus datang langsung. Tapi sejak pakai WhatsApp Business, pelanggan bisa pesan lebih dulu, tinggal ambil, dan bayar.
Sederhana kan? Tapi dampaknya besar. Pelanggan lebih nyaman dan penjual pun bisa atur stok. Jadi, jangan tunggu punya website keren dulu! Mulai aja dari tools gratis yang sudah ada.
2. Jualan di Marketplace, Kenapa Nggak?
Sobat Cuan-ku, marketplace tu sudah kayak mal raksasa online. Produk kita bisa nongol di etalase yang terlihat oleh jutaan orang hingga pelosok negeri.
Nggak perduli basis usahamu di Semarang. Kamu tetap bisa mendapatkan orderan dari pelanggan dari luar Semarang bila sudah punya toko online di marketplace.
3. Belajar Digital Marketing, Biar Nggak Bingung
Nggak perlu langsung jago bikin iklan ribet sih. Mulai dari konten sederhana saja dulu. Misalnya, video behind the scenes proses bikin produk.
Kalau kamu mengemas video tersebut dengan menarik akan berpotensi viral di TikTok lho. Hal ini tentu akan membawa keuntungan buat usahamu. Minimal, produkmu akan dibicarakan oleh lebih banyak orang.
Keuntungan lainnya yang lebih menyenangkan adalah omzet penjualan bakal naik sih. Intinya, konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan.
4. Manfaatkan Aplikasi Kasir untuk Usaha Lebih Rapi
Salah satu cara sederhana tapi efektif adalah pakai aplikasi kasir. Dengan aplikasi ini, UMKM bisa mencatat transaksi secara otomatis, memantau stok barang, hingga melihat laporan penjualan harian tanpa ribet.
Meski terkesan sederhana, aplikasi ini bisa jadi game changer banget buat UMKM lho. Biar laporan keuangan jadi lebih rapi dan profesional.
5. Gabung Komunitas, Belajar Bareng Lebih Seru
Sobat Cuan-ku, jangan remehkan kekuatan belajar bareng ya! Kalian bisa taklukkan dunia digital dengan kursus online lho.
Ada banyak pelaku UMKM yang awalnya gaptek banget, tapi setelah ikut pelatihan dari Kemenkop UKM atau gabung komunitas lokal, langsung pede main di dunia digital.
Ilmu yang kalian dapat bisa langsung dipraktikkan, plus bisa saling support antar pelaku usaha.
UMKM Bisa Tetap Relevan Di Era Digital
Sobat Cuan-ku, meskipun dunia makin digital, UMKM tetap bisa kok ikut melangkah. Kuncinya ada pada keberanian untuk mencoba, belajar hal baru, dan memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan.
Ingat, kekuatan UMKM ada di keunikan produk dan kedekatan dengan konsumen!
Jadi, jangan takut ketinggalan zaman. Mulailah dari langkah kecil, karena setiap langkah sederhana bisa membawa UMKM menuju masa depan yang lebih besar.
Lalu, Sobat Cuan-ku, langkah kecil apa yang mau kalian coba duluan hari ini?
Referensi Data: Savitri, Putu Indah. 2023. Liputan. Menteri Teten sebut 22,81 juta UMKM masuk ekosistem digital. Diakses melalui website Antara News pada tanggal 5 Oktober 2025 pukul 15.58 WIB

Persaingan memang begitu ketatnya, belum lagi terkendala modal
Apalagi sekarang hampir era digital
Yang penting para UMKM terus mau belajar dan terus berusaha, peluang masih ada
Aku merasa UMKM yang keren itu bukanlah UMKM yang paling banyak modal, tetapi UMKM yang paling telaten untuk belajar.
Media baru untuk jualan secara digital akan selalu hadir, dan akan ada media lama yang jadi kadaluwarsa. Tetapi perasaan penasaran dan kemauan untuk ngulik (alias belajar) yang akan bikin UMKM itu susah untuk tumbang.
Aku malah suka lihat UMKM yang seneng eksperimen. Misalnya UMKM yang aslinya jualan sambel, tapi malah pengemasan pemasarannya kayak jualan skincare. Random? Iya. Tapi justru yang demen random-random gini yang akan bikin audiens menoleh dan jadi penasaran.
Saya kebetulan sedang di Yogyakarta, jadi bisa ngelihat ketatnya persaingan UMKM dengan brand besar
Brand besar memfasilitasi tempat parkir suasana belanja yang belanja (rapi, dingin karena AC dll) karena itu wajib banget UMKM bisa bersaing dengan mereka
karena itu tips-tips di atas wajib diterapkan deh, agar gak kelindes
Setuju…, digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar UMKM dapat terus bertumbuh dan relevan di era modern.
Sebagai pelaku UKM, semangat tuh dilarang kendur. Wajib terus upgrade meski dengan melangkah pelan, tidak berlari. Jika tidak mengikuti perkembangan zaman, gak mungkin UKM bisa maju. Teknologi mengajarkan kita untuk terus menambah kemampuan yang ujung-ujungnya memperkuat jangkauan sales, marketing, plus branding sekaligus. Dan dunia digital sudah menjadi bagiannya.
UMKM jaman sekarang justru bisa naik level kalau mau sedikit lebih jeli. Di kampung saya, walaupun cuma jualan martabak mini, tapi orderan selalu banyak karena ia melakukan strategi pemasaran melalui akun sosial media dan WhatsApp.
Bahkan saat jualan dia live dan keuntungannya malah berlipat. Selain follower nambah, dikenal masyarakat lebih luas orderan juga semakin melimpah
Produk lokal makin dilirik karena selain harganya lebih terjangkau banyak yang sebenarnya mengandung nilai sentimental juga. Produk UMKM juga bamyak yang tak kalah kualitasnya dari brand besar ya
aku mau beraniin diri untuk buat menerjemahkan konten bahasa korea di sosmed. Biar bisa update kosakata baru