Halo Sobat Cuan-ku! Gimana kabar investasi kalian di awal tahun 2026 ini? Khususnya buat para freelancer kayak aku. Yakin nih, kalian nggak kepentok sama kesalahan investasi yang pernah kualami?
Aku tahu banget kerja dengan penghasilan yang naik turun itu rasanya kayak lagi naik perahu di laut yang ombaknya nggak bisa ditebak. Kadang tenang, kadang bikin deg-degan.
Tapi justru di kondisi seperti inilah, banyak orang mulai kepikiran soal investasi. Harapannya sih sederhana. Pingin hidup yang lebih aman secara finansial di masa depan. Iya nggak?
Masalahnya, niat baik ini sering dibarengi dengan langkah yang kurang tepat. As I said, aku pernah melakukan beberapa kesalahan dalam berinvestasi. Hehehe…
Sebenarnya, kalaupun kalian melakukannya juga, bukan berarti kalian kurang pintar atau apa ya. Cuma memang kadang, realita penghasilan kita tuh beda sama pekerja dengan gaji tetap.
Makanya, biar kalian nggak melakukan kesalahan yang sama denganku, aku menuliskan kesalahan investasi yang sering terjadi saat penghasilan tak menentu. Baca sampai akhir ya, Sobat Cuan-ku!
Pekerjaan Lepas dan Realita Keuangan yang Berbeda
Sebelum bahas soal kesalahan, kita perlu sepakat dulu nih soal konteksnya, khususnya perkara definisi pekerjaan lepas.
Pekerjaan lepas adalah jenis pekerjaan yang nggak terikat kontrak jangka panjang dengan satu perusahaan. Di mana penghasilannya bisa datang dari banyak klien, proyek, atau platform.
Sehingga, wajar saja kalau nilai penghasilannya kurang stabil. Bulan ini ramai, eh bulan depan malah ramai sekali. Dan fluktuasi inilah yang bikin strategi keuangan, termasuk investasi, harus kita sesuaikan.
Sayangnya, banyak orang memperlakukan keuangan freelancer dengan pola yang sama kayak karyawan tetap. Di sinilah kesalahan investasi mulai muncul.
Kesalahan 1: Langsung Investasi Tanpa Dana Darurat

Ini kesalahan paling klasik tapi paling sering terjadi. Biasanya, freelancer (seenggaknya, dulu aku begitu) ingin uangnya cepat berkembang.
Sehingga, aku langsung menyisihkan uang untuk investasi tanpa memastikan apakah aku sudah punya dana darurat yang cukup. Padahal, aku bukannya nggak punya risiko kehilangan pemasukan di tengah penghasilan yang nggak menentu ‘kan?
Akibatnya, investasi yang kulakukan justru berubah fungsi menjadi tabungan darurat dadakan. Saat aku punya kebutuhan mendesak, investasi tadi terpaksa kucairkan di waktu yang nggak ideal. Bukan nggak mungkin aku malah rugi.
Pelajaran pentingnya adalah sebelum investasi, pastikan kalian sudah punya dana darurat yang totalnya mencapai minimal 3–6 bulan pengeluaran.
Ingat ya! Investasi tuh seharusnya bikin hidup kita lebih tenang, bukannya jadi sumber stres baru.
Kesalahan 2: Memaksakan Nominal Investasi Tetap Setiap Bulan
Sebagai seorang freelancer yang basic-nya bukan di bidang keuangan, aku tentu mencari banyak referensi untuk mengatur keuangan.
Dalam pencarian itu, aku menemukan banyak artikel keuangan yang menyarankan untuk investasi rutin setiap bulan.
Yah, sebenarnya saran ini nggak salah kok. Tapi, aku (mungkin banyak freelancer lain di luar sana) menyalah-artikan saran tersebut.
Masalahnya, saat penghasilanku turun, nominal investasi yang sama justru terasa memberatkan. Lha wong, kebutuhanku nggak ikutan turun kok.
Akhirnya, aku merasa bersalah, tertekan, atau bahkan berhenti investasi sama sekali. Let’s say goodbye sama dana berkembang untuk masa depan!
Menurutku untuk pekerja lepas, pendekatan yang lebih realistis adalah berbasis persentase, bukan nominal tetap. Misalnya, aku akan menyisihkan 10–20% dari setiap penghasilan yang masuk. Berapapun itu.
Dengan cara ini, investasiku tetap berjalan tanpa mengorbankan kebutuhan hidup dan kesehatan mental.
Kesalahan 3: Terlalu Cepat Masuk ke Instrumen Berisiko Tinggi

Aku nggak ngerti kalian merasakannya juga atau nggak. Tapi, dulu tuh aku merasa penghasilanku yang nggak stabil sering memicu satu dorongan emosional.
Aku ingin cepat “mengejar ketertinggalan”. Ingin duitku cepat berkembang dan sejenisnya.
Tahu nggak apa akibatnya, Sobat Cuan-ku?
Aku langsung melompat ke instrumen yang berisiko tinggi tanpa benar-benar memahami apa risikonya. Sampai akhirnya, aku menyadari kalau fluktuasi penghasilan dan fluktuasi investasi adalah kombinasi yang cukup berbahaya.
Deg-deg-annya itu lho, Say. Nggak nguatin. Hehehe…
Ya, bukan berarti freelancer nggak boleh mengambil risiko. Tapi, risikonya perlu bertahap dan terukur gitu deh. Terutama di fase awal membangun fondasi keuangan.
Kesalahan 4: Nggak Punya Tujuan Investasi yang Jelas
Nah lho. Ini nih kesalahan yang paling fatal menurutku. Aku nggak punya tujuan investasi yang jelas. Mau itu jangka panjang atau pendek.
Hasilnya, aku kayak berjalan tanpa peta gitu. Sembrono dan you know, sering tersesat dan nggak tahu arah jalan pulang (bacanya jangan sambil nyanyi lho).
Aku yakin, nggak hanya aku, ada banyak orang yang berinvestasi hanya karena ikutan tren atau takut ketinggalan, tanpa tahu sebenarnya untuk apa uang itu dikembangkan. Semacam FOMO gitu deh.
Nggak heran kalau saat pasar turun, aku panik nggak karuan. Terus saat naik, aku malah serakah.
Padahal ya, punya tujuan investasi yang jelas akan sangat membantu kita untuk menentukan beberapa hal, sebagai berikut:
- jangka waktu
- jenis instrumen
- toleransi risiko
Mulai sekarang, kalau mau investasi tentukan dulu tujuannya dengan jelas. Apakah investasi untuk dana pensiun, dana pendidikan, atau kebebasan finansial?
Biar nggak berjalan tanpa peta dan arah lagi ya, Sobat Cuan-ku!
Kesalahan 5: Mengabaikan Pajak dan Biaya Tambahan
Freelancer sering berada di posisi double responsibility. Di mana kita akan mengatur penghasilan sekaligus pajak secara mandiri. Sayangnya, hal ini kerap kulupakan saat mulai investasi.
Asal kalian tahu aja ya. Awalnya, aku nggak tahu tuh kalau biaya transaksi, pajak, dan potongan lainnya bisa menggerus hasil investasi secara perlahan. Makanya, aku lempeng saja nggak memperhitungkannya sejak awal.
Eh lha kok pas pencairan, hasil yang kuterima nggak sesuai sama ekspektasiku.
Dari situ, aku paham, kalau mengelola investasi tuh juga harus sekalian memperhitungkan biaya yang mungkin ada, termasuk urusan pajak dan biaya lainnya.
Soalnya, kalau nggak gitu mah sama saja kayak aku menghitung penghasilan doang tanpa memperdulikan biaya pengeluaran. Tahu sendiri, mana ada hidup tanpa biaya?
Lalu, Gimana sih Investasi yang Lebih Sehat untuk Freelancer?
Kali ini, aku nggak hanya ngomongin soal kesalahan investasi freelancer doang. Tapi, aku akan sedikit menyinggung soal solusi yang realistis.
Salah satu langkah awal yang bisa kulakukan adalah memilih rekomendasi instrumen investasi untuk freelancer yang lebih fleksibel dan relatif stabil. Misalnya:
- reksa dana pasar uang untuk tahap awal
- reksa dana pendapatan tetap untuk jangka menengah
- emas sebagai penyeimbang portofolio
Ini bukan hanya soal mana yang paling cuan, tapi mana yang paling sesuai dengan kondisi arus kas dan psikologisku. Kalau kalian punya opsi lain, silahkan saja ya, Sobat Cuan-ku.
Jangan Lupakan Bahwa Investasi Terbaik Adalah Diri Sendiri

Di luar instrumen keuangan, ada satu aset yang sering diremehkan oleh freelancer yaitu skill freelancer itu sendiri. Kalau kata orang-orang tuh investasi leher ke atas.
Kalian harus tahu, kalau meningkatkan skill bisa berdampak langsung pada beberapa hal, yaitu:
- kenaikan tarif
- peluang klien lebih luas
- stabilitas penghasilan jangka panjang
Dalam banyak kasus, hasil investasi skill bisa lebih cepat terasa daripada instrumen finansial. Jadi, jangan ragu mengalokasikan sebagian uang dan waktu untuk belajar dan berkembang ya, Sobat Cuan-ku!
Investasi Nggak Akan Berjalan Tanpa Dasar Keuangan yang Sehat
Pada akhirnya, investasi hanyalah bagian dari sistem yang lebih besar, yaitu cara mengatur keuangan pribadi.
Tanpa pencatatan keuangan, pemisahan rekening, dan perencanaan dasar, investasi akan terasa berat dan membingungkan.
Sebaliknya, ketika keuangan pribadi tertata, investasi menjadi proses yang lebih tenang dan rasional. Begitu lho.
Pelan, Konsisten, dan Sadar Kondisi Diri
Kesimpulannya, investasi bagi pekerja lepas tuh bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling bertahan.
Dengan memahami kesalahan-kesalahan umum ini, kalian bisa membangun strategi investasi yang lebih selaras dengan realita penghasilan yang nggak menentu.
Pelan-pelan saja (kalau kata lagunya Kotak), asal konsisten dan sadar arah kemana mau melangkah. Ihiir… Soalnya, dalam dunia keuangan, khususnya bagi freelancer, bertahan sering kali jauh lebih penting daripada terburu-buru.

Dana Darurat itu penting sekali
Kalau tidak ada bisa pusing banget kalau ada hal insidentil di luar kendali
Namun, pelan pelan memang
Sebab semua orang belajar untuk menata masa depan lebih baik dengan investasi
benar-benar “ngena” banget buat aku yang juga pejuang freelance. Jujur, aku pernah terjebak di kesalahan nomor dua, yaitu memaksakan nominal investasi tetap padahal proyekan lagi sepi. Rasanya malah jadi beban pikiran, bukan bikin tenang. Setuju banget kalau kuncinya ada di persentase, bukan angka saklek, supaya tetap fleksibel. Terima kasih sudah diingatkan soal dana darurat dan investasi “leher ke atas” juga. Tips yang sangat humanis dan realistis buat kita!
Jaman kerja aku berani teh berinvestasi , di emas , sama di aplikasi bibit ( maaf sebut merk ) , kalau emas okelah ya tanpa ritme yg terlalu tajam
Kalau investasi di aplikasi ya aku ngasal aja haha klik ini klik itu ampe akhirnya beli saha 1 pt apa gitu , senila 500 ribu , karena ga faham aku biarin tuh 4 bulan , harusnya kan continue ya , ahirnya aku cairin aja deh
Sekrng karena bene2 freelancer dan ibu rt aku ga berani ambil resiko sih buat investasi jual beli
Di Part terakhir aku setuju yuk mulai investasi untuk diri sendiri , nambah skill nambah connection itu adalah good investasi juga
Betul sekali. Sebelum masuk investasi sebaiknya punya dana darurat dulu ya. Setidaknya untuk 3x pengeluaran bulanan. Setelah itu bisa jalan bareng. Saya juga setuju kalau untuk freelancer sebaiknya investasinya rutin dalam bentuk prosentase, bukan bulanan tapi tiap dapat job. Selain itu untuk yang masih awam dalam dunia investasi, sebaiknya memang mencoba yang low risk dulu.
Menjadi seorang freelancer memang harus bijak banget kalau mau investasi uang dan jelas harus beda sistemnya dengan yang berpenghasilan tetap seperti karyawan. Banyak yang harus dipertimbangkan dengan cermat agar investasi bisa menjadi untung, bukan buntung. Sulit memang, tapi bukan mustahil. Kalau kita bisa mengurus dengan manajemen keuangan yang fleksibel, insyaAllah bisa ya
Jujur sampe sekarang aku masih belum bisa berinvestasi mbak. Yhaa, semenjak istri berhenti kerja, anak juga mau masuk sekolah, jadi pendapatanku pun ngepas banget. Belom ada banyak yang bisa disimpan. Paling yaa sekarang fokus ke investasi teraman aja, yakni emas. Kebetulan sekarang lumayan naik ya harganya.
Tapi kalau ke instrumen lain yang konservatif atau bahkan high risk, kayaknya nanti dulu deh ya. ora sanggup, wkwkwkwk
Nah setuju, poinnya ada di “bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling bertahan”. Semoga dengan pemaparan mbak Yuni tentang kesalahan-kesalahan yang disebutkan, bisa mencerahkan para investor, sehingga dapat belajar dan menjadi makin mahir dalam berinvestasi.
Aku jadi inget pesan dari seorang tentang investasi. Jangan meniru bagaimana orang lain, sesuaikan dengan keadaan diri dan kebutuhan. Karena itu yang paling penting untuk diketahui.
Jadi benar untuk list kesalahan yang ada, terutama soal terlalu cepat ambil intrumen tinggi. Bagaimanapun seorang freelance itu pendapatannya penting diperhatikan, ada kalanya pendapatan yang tidak sama tiap bulan itu bisa mempengaruhi kebutuhan atau biaya yang kadang juga tiba-tiba besar.
Akhirnya memang yang sehebat apapun teori atau pengalaman orang, kembali lagi pada keadaan diri yang tahu bagaimaan investasi yang tepat.
Setuju, kalau investasi tuh nggak asal taruh duit di instrumennya. Perlu dikenali dulu seberapa besar nilai yang bisa diinvestasikan. Kata orang nilai kecil untuk investasi akan sangat menguntungkan daripada besar tapi asal taruh. Dan yang paling penting, dana darurat harus tetep ada untuk meng-cover hal-hal yang tidak diinginkan selama proses investasi. 🙂
Setuju banget, investasi buat freelancer memang beda cara nya dibandingkan dengan pegawai tetap. Nah, jangan sampe nggak punya dana darurat. Freelancer itu kan penghasilannya sangat tidak tetap, jadi lebih baik berjaga-jaga. Kalaupun mau berinvestasi mesti sesuai sama profil resiko dan harus sabar serta konsisten juga nih. Soalnya namanya investasi itu nggak instan.
Sepakat kalau investasi leher ke atas buat diri sendiri salah satu yang sangat menguntungkan serta bermanfaat buat jangka panjang.
Benar sekali ini, Mbak. Saya juga mengalami hal yang sama. Saat awal belajar investasi, sya maunya langsung dapat untujng. Jadi uang yang ada diinvestasi semua. ga ada dana darurat. saat ada kebutuhan, saya tarik semua. untung saya pilih reksadana pasar uang yang bisa dicairkan kapan saja. Intinya saat investasi, pilih yang sesuai dengan profil risiko rendah dulu. Terus penting tetaokan sejak awal apa tujuan investasi.
Berinvestasi itu memang wokeh ya, tapi bisa didahulukan sudah punya dana darurat terlebih dahulu, sebagai langkah antisipasi yang bisa aja ada kejadian di tengah berinvestasi yang tak terduga, sehingga bisa pakai dulu deh dana darurat buat bertahan
Aku pun baru berani invest tu reksadana pasar uang soalnya termasuk ngggak butuh modal gede dan hasilnya emang nyata. Belum terlalu berani ambil risiko juga soalnya uangnya ya masih terbatas hehe.
Freelancer ini emang rentan yaa, karena kalau sakit aja sehari udah nggak ada pemasukan, makanya nih kudu bener2 hemat, trus jaga kesehatan supaya bisa selalu kerja xixixi.
Jangan FOMO2 juga dengan investasi yang menjanjikan return tinggi, tapi sebenarnya high risk. Hidup selow aja yang penting ada tabungan masa pensiun 😀
Setuju banget kalau memang semuanya harus dijalankan dengan hati-hati, pelan-pelan dan punya dasar keuangan yang sehat. Karena sebagai freelancer dengan pendapatan yang tidak stabil seperti pegawai kantoran yang biasa harus bisa mengelola uang dengan baik sehingga semua kebutuhan utama terpenuhi baru bisa berinvestasi. Dan pilihannya juga harus benar supaya tidak terjadi loss yang berlebihan
Aduh sepakat dan relate banget ini Mba.. Terutama bagian tabungan yang selalu jadi dana darurat yang dicairkan di waktu-waktu gak ideal.. Memang betul ya, sebelum investasi, dana darurat itu benar-benar perlu diutamakan ..
jadi ingat aku waktu awal investasi tu kan nggak ngerti ya kalau nilai investasi itu bisa turun apalagi kalau reksadana pendapatan tetap jadi pas reksadana yang kupikih nilainya turun aku panik dan merasa rugi banget trus akhirnya uangnya kutarik semua karena takut habis uangnya. kalau sekarang insyaAllah sudah lumayan ngerti sih investasi itu ada risiko turunnya jadi kalau turun bisa lebih legowo
Investasi gak akan bisa berjalan lancar jika keuangan kita bekum sehaat yaaa….jadi sehatkan dulu keuangan baru investasi
Bener mbaa seringnya kita langsung cemplungan ke dana investasi dan tidak menyiapkan dana darurat..itu yang aku lakukan dulu secara dulu sepertinya literasi keuangan juga gak spt sekarang yaa…sekarang makin banyak ilmu keunangan yang bisa kita pelajari secara online..Investasi itu penting namun jangan lupa dana darurat juga lebih penting 🙂